Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2011

Kasihku Bukan Cintaku


coba apresiasi lagu Broery Marantika dan Dewi Yull dalam sebuah tulisan.
Beberapa bulan kemarin, saya sedang menuju kantor dan sedang menikmati kemacaten jakarta dengan mendengarkan saluran radio GEN FM dengan acara “salah sambung”-nya yang merupakan acara paling populer dijakarta, dengan pembawa acara kondang juga, Kemal dan TJ. karena macetnya jakarta, saya juga bolak-balik mencari siaran lain sebelum acaranya dimulai, ketika itu sedang dalam program acara bolak balik radio ini, yang tentunya berusaha menghindari acara program berita politik. Tiba-tiba disalah satu saluran ada iklan bahwa ada sebuah sekolah pendidikan anak usia dini yang mendidik  anak-anak mempu melakukan debat. Sampai disitu saya masih sangat apresiasi, karena hal ini merupakan budaya yang bagus, sehingga sang anak akan dididik mampu memberikan argumen dan mengasah otak dalam keadaan apapun, serta terciptanya pikiran yang merdeka.
Tidak sampai disitu saja, kemudian didalam iklan dikatakan, bahwa pendidikan ini disiapkan untuk memampukan anak menjadi seorang politikus senayan…. Hmmmmmmmmmm…. Saya berguman dalam hati, memang jabatan politikus di negara ini merupakan jabatan yang sangat prestisius, tapi, bukannya salah mendidik anak membuka pikiran seluas-luasnya dan semerdeka mungkin, tetapi jika proses ini digunakan dengan mengunci dia “hanya menjadi politikus” senayan, bukankah hal yang kurang bijak memasukkan anak untuk dididik disana? Kenapa anak yang masa depannya terbentang luas didepan disiapkan menjadi anggota senayan? Memang benar juga sih, jabatan politikus senayan untuk saat ini dan di negara ini, adalah jabatan yang sangat prestisius. Tapi akankah ini bertahan selamanya? Ataukan ada saatnya jabatan ini akan musnah terkait dengan kurang “Jantannya” para politikus kita sekarang?
Trend berita di Indonesia belakangan ini memang tidak jauh dari dunia politik. Hampir semua kalangan selalu membicarakan politik. Setiap kita membaca berita di media surat kabar dan online, selalu tidak jauh dari politik, sementara jika kita menonton televisi, hampir semuanya membahas politik.
Artis, Pengusaha, Lawyer, bahkan pensiunan lembaga-lembaga tinggi negara seperti TNI POLRI dan lembaga tinggi negara lainnya, berlomba-lomba menjadi politikus, seolah-olah seakan-akan sekonyong-konyong bahwa jabatan politik sebagai anggota Dewan atau anggota Parpol tertentu merupakan sesuatu yang sangat prestius dan luar biasa. Padahal kalau kita saksikan, banyak politikus yang melakukan korupsi dan porsinya mungkin jauh dibawah korupsi orang lain. Tetapi tekanan pastilah cukup tinggi kepada meraka. Lalu muncul pertanyaan, kenapa sih orang-orang masih mau menjadi politikus?
Memang benar bahwa ada era untuk setiap jabatan atau pekerjaan, pada zaman dulu pekerjaan seperti ilmuwan, pencipta musik klasik, filosofi dan jabatan lain sudah melewati masanya, dan sekarang orang-orang yang menggeluti kegitan tersebut adalah memang orang-orang yang tidak melihat hanya dari sisi sosialnya saja, dan beberapa orang ada juga yang menumpang tenar di pekerjaan ini, untuk mencari kursi di senayan atau pemerintahan, itulah trend terbaru di negara kita. Tetapi kita semua berharap, bahwa suatu waktu, indonesia tidak hanya dibumbui politik lagi. Apalagi yang terbaru dan paling miris, bahkan olahraga paling prestisius yaitu sepak bola yang bernaung dibawah PSSI, ikut juga dipolitisasi. Mau dibawa kemana bambang pamungkas, boaz salosa cs? Dan mungkin alfred riedel ketika pulang kenegaranya selesai melatih Timnas akan berkata, “Saya harus belajar Politik, agar saya mampu berhasil melatih Timnas Indonesia, dan para politikus yang mencampur adukkan sepakbola dan politik tidak perlu ikut mengintervensi tim saya”.

Minggu, 13 Februari 2011

Pahlawan Yang Sederhana

Banyak orang mengatakan bahwa pahlawan sebenarnya adalah yang maju ke medan perang dengan semangat berapi-api dan ada disana untuk membela kepentingan orang banyak. Itulah yang mungkin kita lihat pada diri seorang Jendral Bintang Lima Soedirman, Panglima Gajah Mada, Juga Bung Karno. Adalah benar adanya, bahwa mereka sudah banyak berbakti kepada Nusantara bakti yang akan susah buat di list satu persatu.
Lihat saja Bung Karno misalnya, yang sudah dibuang berkali-kali oleh pemerintah Kolonial karena gerakan perjuangan politiknya yang ingin memerdekakan NKRI. Dia tidak pernah gentar untuk berjuang, ditambah dengan kemampuan orasinya di depan umum, maka tidak akan sulit menyematkannya gelar Pahlawan kepada pemimpin satu ini.
Soepomo, atau yang dikenal dengan Raden Soepomo, adakah nama ini segar diingatan generasi reformasi sekarang ini? Bahkan penulis sendiri juga harus mencari literatur mengenai siapa sebenarnya ‘silent man’ atau ‘Golden Boy’ ini. Sedikit pencerahan yang didapat melalui surfing internet berikut mungkin akan sedikit menyegarkan ingatan kita.
Raden Soepomo merupakan salah satu sosok peletak dasar negara Republik Indonesia. Ia terlibat langsung dalam penyusunan UUD 1945, Penjelasan UUD 1945 berasal dari pidato Soepomo dalam sidang BPUPKI. Soepomo juga yang menjadi otak teori integralistik dalam penjelasan UUD 1945.
Itulah sekelumit biografi mengenai Pahlawan yang tidak banyak dikenal ini. Dengan pengabdian yang juga tidak terhitung jumlahnya terhadap NKRI ini, mungkin akan muncul banyak pertanyaan, kenapa dia tidak seterkenal tokoh-tokoh lainnya? Jawabannya mungkin saja tidak. Karena beliau akan selalu tampil dibelakang, untuk mendukung kepentingan yang paling umum. Dengan tidak tampil didepan umum, aktifitas beliau akan lebih leluasa bergerak di satu sisi, tapi di sisi lain, nama beliau akan dilupakan oleh banyak orang, dan akan membutuhkan banyak sekali pengorbanan karena beliau tidak akan mudah mendapat dukungan masyarakat, baik secara moral maupun secara pergerakan. Soepomo juga dikenal sebagai orang yang tekun dan mempunyai sikap yang netral menyebabkan namanya bersih dan bebas dari skandal.
Adakah kita menemui orang-orang seperti beliau di zaman millenium dan reformasi ini? Sepertinya akan sangat sulit menemukan sosok ini dinegara tercinta ini, dimana masyarakatnya cenderung bersikap ingin tampil sebagai pahlawan perubahan-perubahan. Tampil dengan suara lantang menghujat pemerintahan yang dipilih dan ditegakkan sendiri oleh dia. Adakah kita bisa meletakkan kepercayaan kepada orang-orang ini? Adakah orang yang sederhana dan bekerja keras tetapi tidak selalu ingin menonjol? Jawabannya jelas ADA…. Tapi dimakah dia berada sekarang? Dia berada diantara kita, tetapi karena sifat ulet, netral dan tidak ingin menonjol, kita tidak mudah menemukannya diatara orang-orang yang tampil setiap saat di televisi untuk membicarakan kegagalan pemerintah.


Kamis, 10 Februari 2011

Aku Tetap Baik-Baik Saja Walau Saya Bankrut

Demikianlah kira-kira sedikit terjemahan lagu dari That I Would Be Good yang dinyanyikan oleh Alanis Morrisette. Lagu ini sedikit menginspirasi saya akan keadaan negeri yang sedang sedikit banyak diserang oleh keadaan-keadaan yang hampir tidak masuk akal, namun tetap saja hal ini menjadikan bangsa ini terganggu dan terkuras konsentrasinya. konsentrasi yang tadinya difokuskan untuk mensejahterakan masyarakat banyak menjadi mencegah pengganggu kesejahteraan rakyat seperti para korupsi dan mafia hukum.

Memang sedikit agak sumir jika saya disini membahas mengenai Gayus Tambunan dengan Jaksa Cirus Sinaganya. memang sangatlah miris jika kita menyaksikan berita setiap hari yang muncul di media cetak maupun televisi. muncul pertanyaan di benak banyak anak bangsa, apakah bangsa ini akan begini-begini aja?, dan yang pertanyaan yang lebih menggelitik saya lagi adalah, apakah saya juga sanggup tidak berbuat seperti Jaksa Cirus Sinaga jika saya berada di posisinya?  atau jangan-jangan sayalah yang menggantikan posisi Cirus sekarang.



Cirus, mafia hukum, koruptor, pelaku kekerasan juga adalah saudara kita. mereka memang benar sudah melakukan hal yang sangat merugikan bangsa ini, dan sekarang hukum sudah berjalan diatas mereka, biarlah kita sebagai masyarakat memberikan kepercayaan penuh kepada Hukum sebagai panglima di negeri ini. saya yakin dan percaya, apabila semua masyarakat bersatu padu dan memunculkan pikiran dan energi positif untuk mendukung semua perangkat pemerintahan di Negara ini, maka tidak mustahil negara ini akan bisa melakukan terebosan baik di bidang ekonomi maupun dibidang kenyamanan dalam berbangsa dan bernegara.

Hilangkanlah pikiran yang negatif bahkan kepada orang paling negatif sekalipun, agar bangsa ini bisa bergerak maju. Waktu adalah hakim yang paling adil buat setiap pelaku kejahatan, dan biarlah waktu yang akan menghakimi semua pengerusak bangsa ini. pada saatnya nanti, semua koruptor, mafia dan pelaku kejahatan lainnya akan ketinggalan Zaman. dan akan berkata kepada diri sendiri... Hari Gini Masih Mafia???? Cape Dehhhhhhh..........

Dan ditempat-tempat umum akan terdengar teriakan keyakinan dari setiap orang-orang kita, saya akan baik-baik saja walau negaraku carut marut, atau presidenku tidak sesuai dengan visiku..... dan saya akan baik-baik saja walau presidenku turun melalui pemilu, bukan melalui upaya-upaya negatif lainnya.....

Dan Aku akan baik-baik saja dengan pemimpin hebat atau tanpa pemimpin hebat....

Selasa, 19 Oktober 2010

Kota Tarutung

Sudah lama tidak mengunjungi kotaku ini, ntahlah, rasa rindu ke kota ini sudah sedikit memudar, mungkin karena semua teman sepermainan dulu yang sama-sama besar disana sudah pada merantau, atau mungkin juga karena tidak begitu menyukai pemimpinnya yang sekarang, ntahlah, tapi yang jelas, ingin rasanya kotaku yang satu ini maju dan berkembang, berharap banyak bisa seperti singapura, kecil, tapi sukses. (mimpi kali ya... dengan pemimpin kabupatennya yang sekarang :)...

melihat dari gunung siatas barita, sungguh indah kotaku ini, sungai yang membagi dua kota ini seolah-olah ular yang meliuk-liuk di hamparan sawah. penghuninyapun sungguh ramah dan saling menghormati ( itu dulu, ketika belum dipimpin bupati yang sekarang, kalau sekarang kurang tau, mudah-mudahan masih tetap begitu, dan semoga toluto terus memacu dirinya untuk membangun Lingkaran Tapanuli Utara, bukan Lingkaran Pribadinya).

Penghargaan yang disematkan di kotaku ini adalah kota wisata rohani, memang benar bahwa beban penyematan gelar ini sungguh berat, sehingga beberapa orang mengeluh bahwa nama itu terlalu besar, "dang tartuhuk ni tarutung on goarnai." begitulah kira-kira sebagian orang memberi komentar.

Namun jika sedikit menilik kebelakang, perjuangan OMPUI NOMMENSEN dan RAJA PONTAS LUMBAN TOBING yang menyebarkan agama Kristen Protestan adalah diawali dari Tarutung. dan walaupun penyematan nama ini dirasa sedikit berat, tapi tetaplah kita tidak bisa lagi menghindar dari penyematan nama ini, yang bisa diusahakan sekarang adalah untuk menjadikan kotanya Rohani dan terus berusaha membentuk saudara-saudara disana menjadi Rohani. agar kelak penyematan gelar ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri buat semua penghuninya. dan sebagai cambuk buat generasi berikut agar mampu dan pantas menyandang sebagai penghuni kota wisata rohani, jikapun belum mampu menyandang gelar ini, kita tetap berharap orangnya adalah orang-orang doa, seperti kota ini sekarang.

Rabu, 13 Oktober 2010

Negara Dalam Lagu

Dan Kau Hanyalah Milikku, adalah sebuah petikan lagu yang pernah didendangkan oleh Broery Marantika dan Dewi Yull. Andai semua kita anak bangsa mampu menyanyikan lagu ini, dengan memikirkan sabang sampai merauke, dengan indahnya alam, ragamnya budaya di negara kita. tiada bedanya dengan lagu tersebut yang selalu memuji dan menyanjung kekasih hatinya, walaupun sang kasih kadang membuat janji yang tidak bisa ditepati atau bahkan tidak mau ditepati. semoga semua anak bangsa bisa menjadi Broery Marantika yang memuja Dewi Yull / Republik Indonesia yang indah ini. awal dari blog ini semoga tetap eksis.